banner 728x250

Anak Muda di Persimpangan: Indonesia Cemas atau Emas?

banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Amirullah Ramadani Yusuf *)

Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Entah kenapa saya tiba-tiba terbangun. Mungkin karena terlalu lelah setelah seharian bergulat dengan pekerjaan dan berbagai urusan yang seolah tak pernah selesai.

banner 325x300

Saat masih mencoba mengumpulkan kesadaran, ponsel saya berdering. Seorang sahabat menelepon. Sosok yang, kalau bicara soal pekerjaan, nyaris tidak pernah gagal. Tapi kalau urusan asmara, hidupnya selalu seperti sinetron dengan episode yang tak kunjung tamat.

Obrolan kami tidak panjang. Namun cukup untuk membuat kantuk saya hilang dan pikiran mulai berkelana ke mana-mana.

Setelah telepon ditutup, saya membuka TikTok. Niat awalnya cuma mencari hiburan sebentar sebelum tidur lagi. Tapi ternyata algoritma membawa saya pada sebuah video diskusi yang sedang ramai diperbincangkan. Di sana, sejumlah mahasiswa berdebat cukup panas dengan beberapa pejabat negara yang dulunya juga aktivis.

Saya menonton sampai selesai.

Bukan karena perdebatannya luar biasa, melainkan karena video itu seperti memicu kembali kegelisahan yang selama beberapa bulan terakhir terus menumpuk di kepala saya. Ditambah berbagai keluhan dari teman-teman, rekan kerja, hingga orang-orang terdekat yang semakin sering terdengar akhir-akhir ini.

Di titik itu saya mulai bertanya pada diri sendiri: sebenarnya kita sedang menuju ke mana?

Sebagai generasi muda, apakah kita sedang berjalan menuju Indonesia Emas, atau justru tenggelam dalam Indonesia Cemas?

Visi Besar yang Tersandung di Lapangan

Kalau kita melihat situasi hari ini secara jujur, ada paradoks yang cukup menarik.

Di satu sisi, pemerintah membawa sejumlah program besar yang secara konsep memang ditujukan untuk masa depan. Program seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih bukanlah proyek yang hasilnya bisa dipanen besok pagi. Program-program itu dirancang untuk membentuk dampak jangka panjang.

Masalahnya, konsep yang baik tidak selalu diikuti pelaksanaan yang baik.

Di lapangan, berbagai persoalan justru bermunculan. Mulai dari tata kelola yang dinilai belum rapi, komunikasi publik yang membingungkan, hingga kontroversi yang terus bermunculan dan menggerus kepercayaan masyarakat.

Akibatnya, program yang seharusnya menjadi sumber optimisme malah sering berubah menjadi bahan perdebatan.

Ketika Kritik Kehilangan Substansi

Di sisi lain, mahasiswa yang selama ini dikenal sebagai kelompok kritis juga menghadapi tantangan yang tidak kalah besar.

Kritik tentu penting. Bahkan sangat penting. Demokrasi membutuhkan suara-suara yang berani mengoreksi kekuasaan.

Namun kritik akan kehilangan makna ketika lebih sibuk mengejar viral daripada menawarkan solusi.

Belakangan kita sering melihat bagaimana ruang publik dipenuhi sindiran, olok-olok, dan potongan video yang mudah memancing emosi. Masalahnya, setelah semua teriakan itu selesai, sering kali tidak ada gagasan yang benar-benar membantu menyelesaikan persoalan.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar lahir bukan hanya dari keberanian bersuara, tetapi juga dari kemampuan berpikir jernih dan menawarkan jalan keluar.

Jangan Sibuk Menyalahkan Atas, Lalu Lupa Berkaca

Ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita.

Kita begitu mudah marah kepada pejabat yang korup, birokrat yang tidak becus, atau elite yang dianggap gagal. Namun pada saat yang sama, kita sering menoleransi berbagai bentuk ketidakjujuran yang terjadi di sekitar kita.

Misalnya, orang yang hidup berkecukupan tetapi tetap mencari cara mendapatkan fasilitas untuk warga miskin. Atau mereka yang memanfaatkan celah sistem demi keuntungan pribadi.

Mungkin skalanya tidak sebesar korupsi miliaran rupiah. Tapi secara moral, akar masalahnya sama: menempatkan kepentingan pribadi di atas keadilan.

Kalau kebiasaan seperti ini terus dianggap biasa, jangan heran jika sistem yang kita kritik setiap hari tidak pernah benar-benar berubah.

Perang Narasi di Era Digital

Tantangan berikutnya datang dari derasnya arus informasi.

Hari ini, perang tidak selalu dilakukan dengan senjata. Kadang cukup dengan narasi, opini, dan potongan informasi yang terus diulang hingga dianggap sebagai kebenaran.

Di media sosial, kita sering terjebak memilih kubu sebelum memahami persoalan secara utuh. Kita lebih cepat membagikan video daripada memeriksa data. Lebih mudah marah daripada mencari fakta pembanding.

Akibatnya, ruang diskusi berubah menjadi arena pertengkaran tanpa ujung.

Padahal bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang semua warganya sepakat. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan kemampuan berpikir rasional.

Indonesia Tidak Sesuram yang Dibayangkan

Meski demikian, saya tidak melihat masa depan Indonesia sepenuhnya gelap.

Di tengah segala kegaduhan politik dan pertarungan opini yang setiap hari memenuhi layar ponsel kita, kehidupan nyata terus berjalan.

Orang-orang tetap bekerja. Usaha-usaha kecil tetap buka setiap pagi. Investor masih menanam modal. Ekonomi tetap bergerak. Dan jutaan orang masih berjuang memperbaiki hidup mereka sedikit demi sedikit.

Mungkin Indonesia memang belum sempurna.

Mungkin masih banyak masalah yang harus diselesaikan.

Tetapi terlalu larut dalam rasa cemas juga tidak akan membawa kita ke mana-mana.

Yang kita butuhkan hari ini bukan optimisme kosong, melainkan kemampuan untuk terus belajar, memperkuat diri, menjaga akal sehat, dan tetap peduli pada sesama.

Karena pada akhirnya, pilihan antara Indonesia Cemas atau Indonesia Emas bukan ditentukan oleh siapa yang paling keras berteriak di media sosial.

Pilihan itu ditentukan oleh jutaan anak muda yang setiap hari memutuskan untuk tetap berpikir jernih, bekerja keras, dan menjadi bagian dari solusi.


Penulis adalah putra kelahiran Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Saat ini ia sedang menempuh studi Ilmu Hukum di salah satu perguruan tinggi di Indonesia, sekaligus menjalani program internship di kantor hukum wilayah Jakarta dan berkiprah sebagai asisten pribadi.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

content-1701

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

\

sabung ayam online

sabung ayam online

SLOT MAHJONG

sabung ayam online

article 0000111

article 0000112

article 0000113

article 0000114

article 0000115

article 0000116

article 0000117

article 0000118

article 0000119

article 0000120

article 0000121

article 0000122

article 0000123

article 0000124

article 0000125

article 0000126

article 0000127

article 0000128

article 0000129

article 0000130

article 0000131

article 0000132

article 0000133

article 0000134

article 0000135

article 0000136

article 0000137

article 0000138

article 0000139

article 0000140

article 0000141

article 0000142

article 0000143

article 0000144

article 0000145

article 0000146

article 0000147

article 0000148

article 0000149

article 0000150

article 00036

article 00037

article 00038

article 00039

article 00040

article 00041

article 00042

article 00043

article 00044

article 00045

article 00046

article 00047

article 00048

article 00049

article 00050

article 00051

article 00052

article 00053

article 00054

article 00055

article 00056

article 00057

article 00058

article 00059

article 00060

article 00061

article 00062

article 00063

article 00064

article 00065

article 3000101

article 3000102

article 3000103

article 3000104

article 3000105

article 3000106

article 3000107

article 3000108

article 3000109

article 3000110

article 3000111

article 3000112

article 3000113

article 3000114

article 3000115

article 3000116

article 3000117

article 3000118

article 3000119

article 3000120

article 3000121

article 3000122

article 3000123

article 3000124

article 3000125

article 3000126

article 3000127

article 3000128

article 3000129

article 3000130

article 3000131

article 3000132

article 3000133

article 3000134

article 3000135

article 3000136

article 3000137

article 3000138

article 3000139

article 3000140

article 3000141

article 3000142

article 3000143

article 3000144

article 3000145

article 3000146

article 3000147

article 3000148

article 3000149

article 3000150

artikel 000000131

artikel 000000132

artikel 000000133

artikel 000000134

artikel 000000135

artikel 000000136

artikel 000000137

artikel 000000138

artikel 000000139

artikel 000000140

artikel 000000141

artikel 000000142

artikel 000000143

artikel 000000144

artikel 000000145

artikel 000000146

artikel 000000147

artikel 000000148

artikel 000000149

artikel 000000150

artikel 000000151

artikel 000000152

artikel 000000153

artikel 000000154

artikel 000000155

artikel 000000156

artikel 000000157

artikel 000000158

artikel 000000159

artikel 000000160

artikel 000000161

artikel 000000162

artikel 000000163

artikel 000000164

artikel 000000165

artikel 000000166

artikel 000000167

artikel 000000168

artikel 000000169

artikel 000000170

artikel 000000171

artikel 000000172

artikel 000000173

artikel 000000174

artikel 000000175

artikel 000000176

artikel 000000177

artikel 000000178

artikel 000000179

artikel 000000180

article 2000101

article 2000102

article 2000103

article 2000104

article 2000105

article 2000106

article 2000107

article 2000108

article 2000109

article 2000110

article 2000111

article 2000112

article 2000113

article 2000114

article 2000115

article 2000116

article 2000117

article 2000118

article 2000119

article 2000120

article 2000121

article 2000122

article 2000123

article 2000124

article 2000125

invoice 00076

invoice 00077

invoice 00078

invoice 00079

invoice 00080

invoice 00081

invoice 00082

invoice 00083

invoice 00084

invoice 00085

invoice 00086

invoice 00087

invoice 00088

invoice 00089

invoice 00090

invoice 00091

invoice 00092

invoice 00093

invoice 00094

invoice 00095

invoice 00096

invoice 00097

invoice 00098

invoice 00099

invoice 00100

article 238000441

article 238000442

article 238000443

article 238000444

article 238000445

article 238000446

article 238000447

article 238000448

article 238000449

article 238000450

article 238000451

article 238000452

article 238000453

article 238000454

article 238000455

article 238000456

article 238000457

article 238000458

article 238000459

article 238000460

article 238000461

article 238000462

article 238000463

article 238000464

article 238000465

article 238000466

article 238000467

article 238000468

article 238000469

article 238000470

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

artikel 888800059

content-1701