tempojakarta id. Jakarta — Fenomena lulusan berpendidikan tinggi yang kesulitan beradaptasi di dunia kerja dan kehidupan sosial masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Meski angka partisipasi pendidikan terus meningkat, realitas di lapangan menunjukkan banyak anak muda merasa belum siap menghadapi tantangan dunia nyata.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka dari lulusan pendidikan tinggi masih tergolong signifikan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: mengapa generasi yang dianggap paling terdidik justru sering mengalami kebingungan arah setelah lulus?
Pengamat pendidikan menilai, persoalan tersebut tidak lepas dari sistem pendidikan yang masih menitikberatkan pada capaian akademik. Proses belajar di sekolah dan perguruan tinggi dinilai lebih fokus pada nilai, ujian, dan kelulusan, sementara penguatan keterampilan sosial, berpikir kritis, dan kesiapan menghadapi realitas kerja belum menjadi prioritas utama.
Di ruang kelas, peserta didik terbiasa diarahkan untuk mengikuti kurikulum secara kaku. Ruang diskusi, keberanian berpendapat, dan kemampuan membaca persoalan sosial sering kali terbatas. Akibatnya, ketika lulus, banyak anak muda memiliki bekal teori yang kuat, tetapi minim pengalaman praktis dan kepercayaan diri dalam menghadapi dunia luar.
Kondisi ini juga berkaitan dengan kebijakan pemerintah di sektor pendidikan dan ketenagakerjaan. Pergantian kurikulum yang relatif cepat dinilai belum sepenuhnya diiringi dengan evaluasi menyeluruh terhadap kebutuhan nyata masyarakat dan dunia kerja. Di sisi lain, lapangan pekerjaan yang layak belum tumbuh seimbang dengan jumlah lulusan baru setiap tahunnya.
Tidak sedikit anak muda yang akhirnya merasa terjebak dalam situasi serba salah. Di satu sisi, mereka dituntut untuk kompetitif dan mandiri. Di sisi lain, sistem belum sepenuhnya menyediakan ekosistem yang mendukung transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja dan kehidupan sosial yang lebih luas.
Selain itu, partisipasi anak muda dalam perumusan kebijakan publik masih tergolong minim. Padahal, generasi muda merupakan kelompok yang paling terdampak oleh kebijakan pendidikan, ekonomi, dan ketenagakerjaan. Kurangnya ruang dialog ini dinilai turut memperlebar jarak antara kebijakan pemerintah dan realitas yang dihadapi anak muda.
Berbagai kalangan menilai, pembenahan sistem pendidikan perlu diarahkan tidak hanya pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kemampuan adaptasi, serta kepekaan sosial. Pendidikan diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya pintar di atas kertas, tetapi juga siap menghadapi dinamika kehidupan nyata.
Fenomena “pintar di kelas, gagap di dunia nyata” menjadi pengingat bahwa kualitas pendidikan tidak cukup diukur dari angka kelulusan semata. Tantangan ke depan bagi pemerintah dan pemangku kebijakan adalah memastikan sistem yang ada benar-benar mampu menyiapkan generasi muda untuk hidup, bekerja, dan berkontribusi secara nyata di tengah masyarakat. “, Penulis Oleh,Ahmad Kamil Mustofa.


















