JAKARTA TIMUR — Tidak semua keputusan strategis lahir dari ruang rapat formal dengan agenda yang kaku. Pimpinan Pusat Media Independen Online (MIO) Indonesia memilih jalan lain: duduk bersama, mendengar, dan menimbang arah di tengah suasana silaturahmi yang cair.
Bertempat di Rumah Makan “Raja Sate dan Tengkleng Kepala Kambing Jawa Tulen” yang terletak di kawasan Cipayung, Jakarta Timur, MIO Indonesia menggelar pertemuan Dewan Kehormatan yang diprakarsai Ketua Umum MIO Indonesia, AYS Prayogie, bersama Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Industri Kreatif Indonesia (APIKI), Anto Suroto. Pertemuan ini menjadi ruang refleksi organisasi untuk membaca ulang tantangan dan menegaskan orientasi MIO Indonesia memasuki tahun 2026.
Dalam perbincangan yang berlangsung tanpa naskah baku itu, AYS Prayogie menegaskan bahwa tantangan media saat ini kian kompleks. Bukan semata soal kecepatan dan teknologi, melainkan soal keberanian menjaga integritas di tengah tekanan ekonomi, kompetisi algoritma, dan budaya viral.
“Media hari ini hidup di ruang yang bising. Semua orang ingin cepat dan viral. Dalam kondisi seperti ini, organisasi pers harus hadir sebagai penyangga nilai agar jurnalis dan medianya tidak kehilangan kompas,” ujar Prayogie.
Ia menekankan pentingnya peran MIO Indonesia sebagai rumah bersama bagi media daring—bukan hanya dalam aspek struktural, tetapi juga sebagai penopang moral dan profesionalisme.
“Kalau organisasi hanya sibuk mengurus struktur, ia akan rapuh. Tetapi jika ia kuat secara nilai, maka struktur akan mengikuti,” katanya.
Silaturahmi Dewan Kehormatan tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh lintas latar belakang, antara lain Anto Suroto, Prof. Budiharjo, Taufiq Rahman, Ir. Indra Setiawan, Mayjen TNI (Purn) Asep Kuswani, Pitra Romadoni Nasution, Prof. Ir. Ali Zum Mashar, Dr. Ir. Kun Wardana Abyoto, Brigjen Pol (Purn) Dr. Victor Pudjiadi, Ir. Agung Karang, Drs. Lasman Siahaan, Dr. Suherman Sadji, Hadi Purwanto, Jhon Jonas, Djoko Waluyo, Maylana T. Koentjoro, Arie Chandra, Donny Endrasanto, Irfan Januar, Andi Niwansyah, Herlina Butar Butar, Yasmin Rubaya, hingga Nicho Hezron.
Beragam pandangan mengemuka dalam diskusi. Mulai dari kegelisahan atas keberlangsungan media kecil dan menengah, keprihatinan terhadap menurunnya etika jurnalistik, hingga harapan agar organisasi pers mampu berdiri sebagai penyangga keadaban publik di tengah derasnya arus disinformasi.
Di penghujung pertemuan, Prayogie merangkum diskusi dengan penegasan arah ke depan. Menurutnya, tahun 2026 harus menjadi momentum konsolidasi internal MIO Indonesia.
“Kita mungkin tidak bisa menjanjikan kemewahan. Tetapi kita bisa menjanjikan arah yang jelas dan nilai yang dijaga,” ujarnya.
Dari meja silaturahmi yang sederhana itu, MIO Indonesia membaca masa depannya: melangkah pelan, berhati-hati, dan dengan kesadaran bahwa pers bukan sekadar soal berita hari ini, melainkan tentang kepercayaan publik yang dibangun dalam jangka panjang. (/*/*/)










