BEIJING, TEMPOJAKARTA –
Komisaris PLN Batam, Didi Apriadi, Dorong PLN Susun Masterplan Repowering PLTU Nasional. Hal itu disampaikan usai menghadiri Repower China Summit 2026,sebuah forum internasional khusus membahas transformasi aset pembangkit batu bara menuju sistem energi rendah karbon yang diselenggarakan di Beijing, Tiongkok pada Rabu, 15 April 2026.
Kehadiran PLN Batam dalam forum ini merefleksikan bahwa isu repowering kini telah menjadi bagian dari diskursus strategis global. Di banyak negara, repowering semakin dipandang sebagai salah satu jalur transisi energi yang realistis, karena memungkinkan transformasi aset pembangkit eksisting menjadi pusat energi bersih tanpa harus selalu memulai dari proyek baru sepenuhnya.
Bagi Indonesia, momentum ini sangat penting. Repowering tidak lagi semata menjadi wacana teknis, tetapi telah mulai memperoleh dasar dalam kebijakan nasional. Dalam PP 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional, pemanfaatan energi baru dari tenaga nuklir diarahkan untuk pembangkitan tenaga listrik, termasuk re-powering dan co-generation.
Dalam penjelasannya, repowering dimaknai sebagai proses pembaruan sumber utama dalam sistem pembangkitan agar menjadi lebih efisien dan menghasilkan energi listrik yang lebih bersih, misalnya melalui penggantian boiler PLTU batu bara dengan reaktor nuklir atau panas bumi.
Arah serupa juga ditegaskan dalam RUKN 2025, yang menyebutkan bahwa secara teknologi PLTU batu bara dapat dikonversi melalui retrofitting dengan sumber energi baru dan terbarukan seperti biomassa, amonia, maupun nuklir.
Sebagai langkah konkret, Indonesia telah menyelesaikan studi tekno-ekonomi terhadap sebuah PLTU 600 MW di Jawa, yang dilakukan melalui kerja sama Quantified Carbon dan ITB. Studi tersebut menunjukkan hasil positif, baik dari sisi teknis maupun keekonomian.
Salah satu angka yang paling menarik adalah LCOE sekitar 6,55 sen AS per kWh untuk pembangkit batubara yang telah di-retrofit dengan reaktor nuklir. Studi itu juga menunjukkan bahwa pendekatan brownfield repowering berpotensi mengurangi kebutuhan investasi sekitar 32% dibandingkan Pembangunan PLTN baru berbasis greenfield, karena dapat memanfaatkan lahan, infrastruktur pembangkit, dan koneksi transmisi yang sudah tersedia.
Dalam forum summit 2026 tersebut, Didi Apriadi menegaskan bahwa repowering perlu mulai diterjemahkan ke dalam langkah yang lebih konkret di Indonesia.
“Repowering memberikan jalan tengah yang sangat strategis. Kita dapat mengubah pembangkit yang semula kotor menjadi pembangkit bersih, mempertahankan tenaga kerja, serta memanfaatkan lahan, komponen pembangkit, dan jaringan transmisi yang sudah tersedia. Karena itu, repowering bukan hanya relevan dari sisi transisi energi, tetapi juga dari sisi keekonomian dan kesinambungan sistem ketenagalistrikan,” ujar Didi Apriadi.
Didi juga menekankan bahwa konsep repowering tidak terbatas pada nuklir, tetapi juga dapat mencakup opsi lain seperti panas bumi dan thermal energy storage, selama tujuannya adalah mengubah aset pembangkit eksisting menjadi sumber energi yang lebih bersih, andal, dan bernila ekonomi lebih baik.
“Indonesia tidak perlu mulai dari nol. Kita sudah punya aset, kita sudah punya kebutuhan, dan kita sudah mulai punya landasan kebijakan. Yang dibutuhkan sekarang adalah langkah lanjutan yang lebih konkret: engineering feasibility study untuk kandidat proyek awal dan penilaian menyeluruh atas portofolio aset PLTU nasional agar dapat disusun masterplan repowering yang realistis dan bertahap,” tutup Didi.
Untuk itu, Didi berharap PLN segera memulai engineering feasibility study terhadap kandidat PLTU 600 MW di Jawa yang telah dikaji sebagai langkah awal menuju pilot project nasional. Selain itu, ia juga mendorong agar PLN melakukan assessment menyeluruh terhadap seluruh aset PLTU untuk disusun menjadi masterplan repowering nasional, sehingga dapat dipetakan pembangkit mana yang layak untuk direpower, kapan waktu yang paling tepat, dan dengan pendekatan teknologi apa yang paling sesuai.
Dengan dasar kebijakan yang mulai terbentuk, dukungan tren global yang semakin kuat, serta hasil studi awal yang positif di Indonesia, repowering patut dipertimbangkan sebagai salah satu agendastrategis nasional.
Repower China Summit 2026 dilaksanakan hasil kolaborasi Repower Initiative, Tsinghua University, Quantified Carbon, dan dukungan HSBC.


















